Essay Mengenai Revolusi Mental

Revolusi Mental dengan Media Sosial




                   Revolusi mental adalah suatu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar mengubah cara pandang, pikiran, sikap, dan perilaku agar berorientasi pada kemajuan dan hal-hal yang modern, sehingga Indonesia menjadi bangsa yang besar dan mampu berkompetisi dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Gerakan Revolusi Mental sebenarnya sudah dicanangkan sejak Indonesia merdeka, yaitu pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Ide ini digaungkan kembali oleh Presiden Joko Widodo sejak masa awal pemerintahannya.
                   Gerakan ini tentu harus dilaksanakan oleh semua lapisan masyarakat agar tujuan menjadikan Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik dapat terwujud. Saya sebagai siswi SMA, juga harus ikut serta dalam mewujudkan tujuan mulia ini sesuai kemampuan dan posisi saya agar gerakan ini tidak hanya sekedar slogan tetapi AKSI!.
                   Pada zaman di abad 20-an saat ini, penggunaan smartphone hampir dapat ditemui pada segala usia dan lini profesi. Mengamati penggunaan smartphone di lingkungan sekitar, menurut pandangan saya, aplikasi media sosial menjadi aplikasi favorit yang harus ada di setiap smartphone. Saya merupakan salah satu remaja yang mempunyai beberapa macam aplikasi media sosial di smartphone yaitu, Instagram, BBM, Line, Facebook, Twitter, Path, Youtube. Masing-masing media sosial mempunyai keunggulan khusus dalam menarik banyak pengguna. Media sosial memang menawarkan banyak kemudahan yang membuat para remaja betah berlama-lama berselancar di dunia maya.
                   Pada awalnya, saya menggunakan media sosial sebagai sarana memperbanyak teman dan sebagai wadah berbagi pengalaman. Dengan banyaknya pengguna media sosial, saya dengan mudah dapat menemukan orang-orang di sekitar saya maupun seluruh dunia, baik yang saya kenal baik ataupun yang hanya sekedar tahu.  Tidak jarang saya menemukan orang-orang yang jika di dunia nyata cenderung pendiam dan tertutup, tetapi di dunia maya mereka menjadi seorang yang aktif ‘berkicau’ dan sering mengunggah aktifitas sehari-harinya. Dari fakta inilah saya mulai menyadari bahwa kemampuan sosialisasi di dunia nyata semakin berkurang. Remaja seusia saya cenderung lebih mahir memainkan kata-kata melalui berbagai “cuitan” di media sosialnya daripada mengungkapkan pikirannya di dunia nyata. Akibat yang ditimbulkan adalah menurunya interaksi antar individu. Saya merasa lebih percaya diri bila mengungkapkan ide di media sosial daripada harus bertatap muka secara langsung di dunia nyata. Hal ini lama kelamaan membentuk mental ‘pecundang’ yang hanya berani berbicara di belakang.
                   Tidak jarang dari pengguna media sosial yang kini tidak lagi memperhatikan etika dan sopan santun dalam berbicara. Tidak adanya sanksi secara langsung, menjadikan pengguna media sosial merasa tidak segan untuk mengkritik suatu hal maupun seseorang dengan kata-kata yang menyinggung perasaan, bahkan ada yang sampai berkata kasar. Kritikan yang bersifat public, dapat dilihat oleh siapapun, menjadikan remaja-remaja lain yang notabennya masih bersifat ‘labil’ cenderung akan terpengaruh. Mereka akan menganggap bahwa hal tersebut adalah bagian dari atribut wajib anak masa kini. Hingga timbul istilah-istilah ‘anak hits’, ‘anak kekinian’ yaitu remaja-remaja yang selalu mengikuti trend apa yang sedang in. Tidak dipungkiri dewasa ini semakin banyak remaja-remaja bermental pemberontak.
                   Tidak hanya aspek verbal yang menjadi sorotan remaja-remaja pengguna media sosial, aspek gaya busana pun kini menjadi sorotan. Kini pengguna media sosial berlomba-lomba berpose dengan pakaian yang selalu mengikuti zaman agar tidak turun tahta dari predikat anak kekinian. Bukan hanya pakaian-pakaian remaja putri yang semakin beraneka ragam jenisnya, remaja putrapun kini mempunyai dunia fashion yang tidak kalah kekinian dari dunia fashion remaja putri. Para remaja pengguna media sosialpun seolah saling berkompetisi dengan memamerkan harta benda maupun barang yang dianggap dapat menaikkan status sosialnya. Mulai dari memajang foto barang mewah yang baru dibeli misalnya parfum, gadget, make up, mobil, sampai makanan-makanan barat yang akan disantap. Fakta tersebut menunjukkan remaja-remaja Indonesia kini mengedepankan sifat konsumtif dan hedonisme.
                   Setelah memasuki babak baru dalam hidup saya yaitu saat menjadi pelajar tingkat akhir saya menyadari bahwa saya harus berubah. Pelajar tingkat akhir yang sebentar lagi akan menghadapi gerbang seleksi masuk perguruan tinggi tentu harus mempersiapkan diri semaksimal mungkin. Saya merasa selama ini telah merugikan diri sendiri dengan menggunakan media sosial yang cenderung hanya untuk bersenang-senang. Sisi lain dari media sosial yang seharusnya dapat saya manfaatkan untuk persiapan masa depan cenderung saya abaikan. Saya menyadari bahwa mental konsumtif, pecundang, pemberontak harus berevolusi menjadi mental produktif, kreatif, dan inovatif.
                   Kini saya berusaha lebih bijaksana dalam menggunakan aplikasi media sosial. Media sosial saya gunakan sebagai sarana mencari informasi seputar dunia pendidikan. Karena minat pada bahasa Inggris saya cukup besar, kini saya aktif mengikuti akun-akun yang menyediakan layanan belajar bahasa Inggris secara online. Bukan hanya itu, akun-akun twitter yang saya ikuti hampir seluruhnya adalah akun-akun berbahasa Inggris. Laman-laman yang menyediakan Info-info beasiswa S1 maupun beasiswa lainya, kini tak luput menjadi laman favorit media sosial saya. Hobi pada dunia jurnalistikpun saya salurkan melalui kanal-kanal media massa yang kini sebagian besar berbasis online. Membaca berita seputar pendidikan, politik, sosial budaya, dan lain-lain menjadi agenda rutin. Dengan membaca berita dari situs resmi menghindarkan saya dari pengaruh berita hoax dan bahasa-bahasa anak kekinian yang tidak sopan.
                   Kini saya dapat tetap aktif di media sosial dan tidak hanya kesenangan semata yang saya dapatkan, tetapi lebih dari itu, mental untuk terus berkarya bagi orang lain, bahkan bangsa dan negara Indonesia.
                    



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pidato Kesehatan (kanker serviks)