Kerajaan-kerajaan Islam di Pulau Jawa
Kerajaan-kerajaan
islam di pulau Jawa
I. Pendahuluan
Dengan masuknya islam ke Indonesia telah melahirkan
kerajaan-kerajaan bercorak islam yang tersebar di seluruh nusantara. Di Jawa
sendiri kerajaan-kerajaan bercorak islam kurang lebih ada lima kerajaan yaitu
Kerajaan Demak, Banten , Mataram Islam, Cirebon dan Pajang.
II. Uraian Materi
A. Kesultanan Demak (1500-1568)
1. Lokasi Kesultanan Demak
Kesultanan Demak berlokasi di Demak
(Jateng), adalah kesultanan islam pertama & terbesar di pantai utara Jawa.
2.Sumber Sejarah
Dari Dalam & Luar Negeri
Ø Dari
dalam negeri
•
Babad Tanah Jawi, yang isinya mengenai perkawinan
antara Kertabhumi dan putri Champa yang
ditentang kalangan istana. Karena itu, Kertabhumi dengan berat hati
“menghibahkan’’ putri Champa yang tengah
mengandung Raden Patah kepada Arya Damar
adipati Palembang.
•
Serat Kandha yang isinya tentang
larangan Sunan Ampel kepada Raden Patah untuk menyerang Majapahit
Ø Dari
Luar Negeri
•
Berita Asing dari Cina yang ditulis Ma Huan
sekitar 1433 M
•
Berita Portugis terutama
dari Tomi Pires (1512-1515) memberikan gambaran tentang kehadiran para pedagang
dan ulama di kota-kota pelabuhan pesisir utara Jawa Timur ,Jawa Tengah, dan
Jawa Barat.
3. Kehidupan Politik Kerajaan
Demak
|
Silsilah Raja K.Demak
|
Menjelang akhir abad ke-15,
seiring dengan kemunduran Majapahit,
secara praktis beberapa wilayah kekuasaannya mulai memisahkan diri. Bahkan
wilayah-wilayah yang tersebar atas kadipaten-kadipaten saling serang, saling
mengklaim sebagai pewaris tahta Majapahit.
Sementara Demak yang berada di wilayah
utara pantai Jawa muncul sebagai kawasan yang mandiri. Dalam tradisi Jawa
digambarkan bahwa Demak merupakan penganti langsung dari Majapahit, sementara
Raja Demak (Raden Patah) dianggap sebagai putra Majapahit terakhir.
Raja-raja
yang pernah memerintah:
|
No
|
Nam a Raja
|
Tahun
|
Keterangan
|
|
1.
|
Raden
Patah
|
1500-1518
|
· Putra
dari Kertabhumi (Brawijaya V) & Putri Champa ( Tiongkok),
· Raden
Patah membuka pesantren Hutan
Bintara atas perintah Sunan Ampel
· Pada
saat Majapahit mulai melemah, raden
Patah berniat menyerang Majapahit, namun dilarang oleh Sunan Ampel karena
meskipun berbeda agama, Brawijaya tetaplah Ayahnya
· Kemungkinan
Raden Patah menyerang Majapahit pada masa pemerintahan Ranawijaya.
· Setelah
hancur Majapahit menjadi bawahan Demak
|
|
2.
|
Pati Unus
|
1518-1521
|
· Anak dari Raden
Patah
·
Ia pernah diutus Raden Patah untuk menyerang Portugis di Malaka
· Karena
keberaniannya Pati unus dijuluki Pangeran Sabrang Lor , karena pernah menyebrangi Laut Jawa menuju Malaka
|
|
3.
|
Sultan Trenggana
|
1521-1546
|
· Dibawah
kepemimpinanya Demak mencapai masa kejayaan.
· Menyerang
Batavia dibawah pimpinan Fatahilah agar tidak dikuasai Portugis
|
|
4.
|
Sunan Prawoto
|
1546-1549
|
· Ia
lebih cenderung sebagai seorang ahli agama daripada ahli politik
|
|
5.
|
Arya Panangsang
|
1549-1568
|
· Arya
Penangsang juga terkenal sakti mandraguna namun memiliki kepribadian yang
tempramental dan kurang sabar dalam melakukan sesuatu.
|
v
Faktor Kemajuan
1. Letaknya
strategis di daerah pantai,sehingga terbuka hubungan dengan dunia luar
pelabuhan ekspor
2. Pelabuhan
Bergota di Semarang merupakan pelabuhan ekspor-impor ysng penting bagi Demak.
3. Memiliki
sungai sebagai penghubung daerah pedalaman, sehingga membantu pengangkutan
hasil pertanian beras sebagai komoditas ekspor utama.
4. Runtuhnya
Majapahit oleh Demak membuatnya berkembang pesat
v Faktor Kemunduran
1. Terjadi
pertikaian antar keluarga sepeninggal Sultan Trenggana
2. Naiknya Arya
Panangsang ke tahta kerajaan
3. Arya Panangsang
dapat dikalahkan Jaka Tingkir
4. Kehidupan
Ekonomi
Posisi
kerajaan Demak sangat strategis dalam perdagangan laut, pelabuhannya sering
dipakai transit kapal-kapal dagang dari wilayah Barat yang hendak ke Selat
Malaka, begitupun sebaliknya. Keinginan untuk menjadi kerajaan maritime dilakukan
dengan usaha menaklukan Malaka dari Portugis. Usaha ini gagal, walau demikian
tidak meruntuhkan perekonomiannya karena didukung hasil pertanian yang besar
5. Kehidupan
Sosial
Kehidupan
Sosial di Demak tidak jauh berbeda dengan masa berkuasanya Majapahit. Perbedaan
yang mencolok terdapat pada penggunaan aturan-aturan dan hukum yang sesuai
dengan ajaran islam, sehingga terasa lebih tertib dan teratur. Lahirnya
wali-wali di Demak mempercepat proses penyebaran islam.
6. Kehidupan
budaya
Terlihat jelas dengan adanya pembangunan
Masjid Agung Demak yang terkenal dengan salah satu tiang utamanya terbuat dari
kumpulan sisa-sisa kayu yang dipakai untuk membuat masjid itu sendiri yang
disebut soko tatal. Di serambi depan
masjid itulah Sunan Kalijaga meletakkan dasar-dasar Syahdatain (perayaan
Sekaten). Tujuannya ialah untuk memperoleh banyak pengikut agama islam. Tradisi
sekaten /peringatan maulud masih berlangsung sampai sekarang.
B. Kerajaan Banten (1526-1813)
1)
Lokasi
Sebuah kesultanan islam di Provinsi Banten.
Letaknya di wilayah barat Pulau Jawa sampai ke Lampung di Sumatra.
2). Sumber-sumber
Sejarah
Ø Dari dalam negeri
· Carita Parahyangan, memaparkan
bahwa sebelum islam masuk, Banten merupakan bagian penting dari kerajaan
Pajajaran (Hindu) & menyebut K. Banten dengan Wahanten Girang
· Tambon Tulangbawang & Primbon Bayah , menyebut
Kerajaan Banten dengan nama Medanggili
Ø Dari Luar Negeri
· Shung Peng Hsiang Sung, memberitakan
bahwa Banten berada dalam rute pelayaran yang dibuat Mao’Kun
· Buku Ying yai She Lan, Banten disebut
Shut’a yang sangat dekat pelafalanya dengan sunda
3). Kehidupan
Politik
Awal Berdiri
Sebelum Banten berdiri sebagai
kesultanan, wilayah ini termasuk bagian Kerajaan Pajajaran. Setelah itu K.
Pajajaran jatuh ke tangan Kerajaan Demak. Seiring dengan kemunduran Demak
terutama setelah meninggalnya Trenggana,
Banten yang sebelumnya vazal dari
Kerajaan Demak, mulai melepaskan diri dan menjadi kerajaan yang mandiri.
Silsilah raja:
Raja-raja yang berkuasa di Banten adalah
merupakan anak dari Raja sebelumnya yang menjabat di Kerajaan Banten. Sedangkan
Maulana Hasanuddin adalah anak dari Sunan Gunung Jati.
Raja-raja yang
pernah memerintah:
|
No
|
Nama Raja-raja
|
Tahun
|
Keterangan
|
|
1.
|
1552-1670
|
· Memindahkan
pusat pemerintahan dari Banten Girang ke Surosowan
· Membangun
benteng pertahanan di Banten
|
|
|
2.
|
Maulana Yusuf
|
Melanjutkan ekspansi Banten ke kawasan pedalaman
Sunda, dengan menaklukan Pakuan Pajajaran pada tahun 1579
|
|
|
3.
|
Naik tahta
dalam usia yang belum dewasa, sehingga dalam penyelengaraan pemerintahan di
Banten waktu itu ia dibantu dengan sistem perwalian.
|
||
|
4.
|
Sultan Abu al-Mafakhir Mahmud
Abdulkadir
|
|
|
|
5.
|
|
||
|
6.
|
· Pada masa
pemerintahanya Banten mencapai masa kejayaan
· Pada masa ini
Banten berusaha keluar dari tekanan
VOC
· Memperkenalkan
pembukaan sawah di daerah pedalaman
|
||
|
7.
|
Sultan Haji
|
mengirim 2 utusan menemui Raja Inggris untuk
mendapat dukungan &bantuan persenjataan
|
|
|
8.
|
|
||
|
9.
|
|
||
|
10.
|
|
||
|
11.
|
|
||
|
12.
|
|
||
|
13.
|
|
||
|
14.
|
|
||
|
15.
|
|
||
|
16.
|
· Pada masa kekuasaannya Kesultanan Banten telah
begitu lemah, akibat tekanan dari beberapa kekuatan global yang silih
berganti memengaruhi Kesultanan Banten. Sebelumnya pada 22 November 1808, Daendels
mengumumkan dari markasnya di Serang bahwa wilayah Kesultanan Banten telah diserap ke
dalam wilayah Hindia Belanda.
|
v Fakor kejayaan:
1) Letak Banten yang strategis terutama setelah Malaka jatuh ke tangan
Portugis, Banten menjadi bandar utama karena dilalui jalur perdagangan laut.
2) Banten menghasilkan rempah-rempah lada yang menjadi perdagangan utama
bangsa Eropa menuju Asia
v Faktor kemunduran
:
1)
Sultan Haji yang cenderung membangun hubungan
baik dengan Belanda
2)
Terjadii perang saudara di kalangan istana
3)
Diserahkannya Lampung kepada VOC
4)
Diwajibkan mengganti kerugian perang oleh VOC
4.. Kehidupan Ekonomi
Kerajaan Banten berada di posisi yang strategis
dalam perdagangan internasional. Berkuasanya Portugis di Malaka mendorong
Banten untuk membuat pelabuhan di tepi Selat Sunda dan Teluk Banten., Pelabuhan
ini dipakai untuk ekspor lada yang akan dikirim ke luar negeri. Untuk menambah
ekspor lada, Maulana Yusuf melakukan penaklukan ke Lampung. Dengan
ditaklukkannya Lampung sebagai penghasil lada terbesar mampu meningkatkan
ekspor ke luar negeri dan meningkatkan perekonomian.
5.. Kehidupan Sosial Budaya
Masyarakat yang berada pada wilayah Kesultanan
Banten terdiri dari beragam etnis, antara lain: Sunda, Jawa, Melayu, Bugis,
Makassar, & Bali. Dalam bidang seni bangunan Banten meninggalkan Masjid
Agung Banten,yang dibangun abad ke-16. Selain itu, Kerajaan Banten memiliki
bangunan istana & bangunan gapura pada istana Kaibon.
C.
Kerajaan Mataram Islam (1586-1755)
1. Lokasi
Kesultanan
Mataram Islam tidak ada hubungannya dengan Kerajaan Matara Hindu, kebetulan
saja memakai nama yang sama. Kemungkinan didorong keinginan untuk menjadi besar
seperti Kerajaan Mataram Kuno..Pemindahan pusat pemerintahan dari Pajang ke
Mataram tahun 1586 oleh Senopati menandai berdirinya Kesultanan Mataram.
Pusatnya di sebelah tenggara Kota Yogyakarta, Yakni di Kotagede.
2. Sumber
Sejarah
Ø Dari
dalam negeri
· Babad
tanah jawi, Serat Centini, Babad sangkala, Segara Wana & Syuh Brata (adalah
meriam yang diberikan Belanda)
Ø Sumber
sejarah dari Luar Negeri mengenai Mataram Islam tidak diketahui.
3. Kehidupan
Politik
Awal berdiri
Sutawijaya naik tahta setelah ia merebut wilayah Pajang sepeninggal Hadiwijaya dengan gelar Panembahan Senopati. Pada saat itu wilayahnya hanya di sekitarJawa
Tengah saat ini, mewarisi wilayah Kerajaan
Pajang. Pusat pemerintahan berada di Mentaok, wilayah yang terletak kira-kira di timur Kota
Yogyakarta dan selatan Bandar Udara Adisucipto sekarang.
Lokasi keraton (tempat kedudukan raja) pada masa awal terletak di Banguntapan, kemudian dipindah ke Kotagede.
Silsilah Raja-raja:
Sutawijaya anak dari Ki Ageng Pemanahan
memperistri Ratu Hadi, mempunyai anak yaitu Mas Jolang, setelah meninggal
diteruskan anaknya Raden Mas Rangsang (Sultan Agung) lalu berturut-turut
diteruskan anak dari Raden Mas Rangsang dengan Putri Cirebon yaitu Amangkurat
I, Amangkurat II, Amangkurat III, raja selanjutnya yaitu Pakubuwana I ,II, III
adalah raja yang dipilih oleh VOC.
Raja-raja yang pernah memerintah:
|
No.
|
Nama
Raja-raja
|
Tahun
|
Keterangan
|
|
1.
|
Senopati
|
1586-1601
|
Berhasil
menundukan Cirebon dan Kerajaan Galuh
|
|
2.
|
Mas
Jolang
|
1601-1613
|
· Karena
meninggal di Krapyak ia dijuluki Pangeran Sedo Krapyak
· Pemerintahannya
diwarnai pemberontakan dari kerajaan-kerajaan vassal
|
|
3.
|
Sultan
Agung
|
1613-1645
|
· Mataram mencaoai puncak kejayaannya
· Dua kali menyerang Belanda ke
Batavia tahun 1628 & 1629. Kendati gagal, serangan itu mamp membendung
pengaruh VOC di Jawa untuk sementara.
· Menciptakan
kalender Jawa perhitungannya sama dengan tahun Hijriah Menyusun sebuah karya
sastra berjudul Sastra Gending isinya, filsafat kehidupan & kenegaraan.
Serta kitab undang-undang berjudul Surya Alam yang merupakan perpaduan adat
istiadat Jawa & hukum islam.
|
|
4.
|
Amangkurat
I
|
1645-1677
|
· Memerintah
dengan kejam
· Menjalin
hubungan yang mesra dengan Belanda
|
|
5.
|
Amangkurat
II
|
167-1703
|
· Ia sangat
patuh pada VOC
· Karena
Belanda, ia menyingkir ke Desa Wonokerto & membangun ibu kota baru
|
|
6.
|
Amangkurat
III
|
1703-1708
|
Tidak
disukai VOC
|
|
7.
|
Pakubuwana
I
|
1708-1719
|
Diangkat
menjadi sultan oleh VOC
|
|
8.
|
Amangkurat
IV
|
1719-1726
|
|
|
9.
|
Pakubuwana
II
|
1726-1749
|
|
|
10.
|
Pakubuwana
III
|
1749-1757
|
Terjadi pembagian wilayah Mataram menjadi 2,
Kesultanan Ngayogyakarta,Kasuhunan Surakarta
|
v Factor kejayaan
1)
Memiliki prajurit yang kuat
fisik dan mental
2)
Sultan Agung berhasil menyatukan kerajaan-kerajaan
Islam di Jawa
3)
Kuat di bidang agraris yaitu
mampu mengekspor beras ke Malaka
v Faktor
keruntuhan:
1)
Setelah kalah dari Batavia
rakyatnya tidak terurus karena dikerahkan perang
2)
Terjadi pemberontakan dari
kerajaan vassal (kerajaan bawahan)
3)
Terjadi intervensi dengan
Belanda
4)
Terjadi perselisihan diantara
Amangkurat III & Pakubuwana II
v Membagi
sistem pemerintahan Kesultanan Mataram menjadi 4 bagian:
a)
Kutanegara :Daerah pusat keratin,pelaksana
pemerintah oleh patih luar dibantu wedana dalam
b)
Negara Agung :Daerah sekitar Kutanegara,pelaksana
pemerintah dipegang patih Jawidibantu wedana luar
c)
Mancanegara :Daerah di luar Negara Agung
d)
Pesisir :Daerah paling luar, pemerintahan dipegang oleh
bupati atau syahbandar.
4. Kehidupan
Ekonomi
Kerajaan
ini menggantungkan kehidupan ekonominya dari sektor agraris. Hal ini karena
letaknya yang berada di pedalaman. Akan tetapi, Mataram juga memiliki daerah
kekuasan di daerah pesisir utara Jawa yang mayoritas sebagai pelaut. Daerah
pesisir inilah yang berperan penting bagi arus perdagangan Kerajaan Mataram.
5. Kehidupan
Sosial
Dalam bidang kebudayaan, seni ukir,
lukis, hias dan patung serta seni sastra berkembang pesat. Hal ini terlihat
dari kreasi para seniman dalam pembuatan gapura, ukiran-ukiran di istana maupun
tempat ibadah. Contohnya gapura Candi Bentar di makam Sunan Tembayat (Klaten)
diperkirakan dibuat pada masa Sultan Agung Di samping itu juga adanya upacara
Grebeg pada hari-hari besar Islam yang ditandai berupa kenduri Gunungan yang
dibuat dari berbagai makanan maupun hasil bumi. Upacara Grebeg tersebut
merupakan tradisi sejak zaman Majapahit sebagai tanda terhadap pemujaan nenek
moyang
D.
Kesultanan Cirebon(1479-1677)
1.
Letak
kerajaan Cirebon
Letak
Kerajaan Cirebon yaitu sebelah timur jawa barat di dekat laut,karena itu,mata
pencarian uang kerajaan Cirebon yang utama berasal dari perikanan dan
pelabuhan.
2.
Sumber Sejarah
Ø Dari
dalam negeri
· Babad Cirebon
(ditulis abad 19), menceritakan perkembangan Kesultanan Cirebon pada awal
penjajahan belanda di pulau jawa
· Carita Caruban Purwaka Nagari karya
Pangeran Dipati (1702), menceritakan perkembangan Cirebon, perjalanan para
petinggi kerajaan beserta keluarganya.
Ø Dari
Luar Negeri
· Catatan Tomi Pires, Pires
memberikan informasi mengenai keadaan ekonomi dan politik di jawa pada masa
paruh pertama abad ke-16.
3.
Kehidupan Politik
Awal
Berdiri
Pendirian
kesultanan ini sangat berkaitan erat dengan keberadaan Kesultanan
Demak,
Berdasarkan berita dari klenteng Talang dan
Semarang, tokoh utama pendiri Kesultanan Cirebon ini dianggap identik dengan
tokoh pendiri Kesultanan
Banten
yaitu Sunan
Gunung Jati
Silsilah
Raja-raja:
Fatahilah,
raja kedua Kesultanan Cirebon merupakan menantu dari Sunan Gunung Jati,
sedangkan Panembahan Ratu I dan II adalah cucu Sunan Gunung Jati.
Raja-raja
yang penah memerintah:
|
No
|
Nama Raja
|
Tahun
|
Keterangan
|
|
1.
|
Sunan
Gunung Jati
|
1479-1568
|
• Nama
asli Syarif Hidayatullah
• Bergelar sebagai
Ingkang
Sinuhun Kangjeng Susuhunan Jati Purba Panetep Panatagama Awlya Allah Kutubid
Jaman Khalifatur Rasulullah
• Pertumbuhan
dan perkembangan yang pesat pada Kesultanan Cirebon dimulailah oleh Syarif
Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.
• Sunan Gunung
Jati diyakini sebagai pendiri dinasti raja-raja Kesultanan Cirebon dan Kesultanan
Banten
serta penyebar agama Islam di Jawa Barat seperti Majalengka, Kuningan, Kawali (Galuh), Sunda Kelapa, dan Banten
|
|
2.
|
Fatahillah
|
1568-1570
|
Menduduki takhta kerajaan Cirebon
hanya berlangsung dua tahun karena ia meninggal dunia pada tahun 1570
|
|
3.
|
Panembahan Ratu I
|
1570-1649
|
• Takhta
kerajaan jatuh kepada cucu Sunan Gunung Jati yaitu Pangeran Mas
• Pangeran Emas
kemudian bergelar Panembahan Ratu I dan memerintah Cirebon selama kurang
lebih 79 tahun
|
|
4.
|
Panembahan Ratu II
|
1649-1677
|
• Panembahan
Girilaya pada masa pemerintahannya terjepit di antara dua kekuatan kekuasaan,
yaitu Kesultanan Banten dan Kesultanan Mataram
|
4. Kehidupan Ekonomi
Setelah perjanjian antara kerajaan
Cirebon dan VOC ,Keraton Cirebon semakin jauh dari kehidupan kelautan dan
perdagangan,karena VOC memegang hak monopoli atas beberapa jenis komoditas
perdagangan dan pelabuhan.
5. Kehidupan Sosial
Diperkirakan masyarakat Cirebon merupakn
campuran dari kelompok pedagang pribumi dengan keluarga-keluarga Cina yang
telah menganut Islam.Seorang yang paling terkemuka adalah Cu-cu, Keluarga Cu-cu yang
sudah menganut agama Islam kemudian mendapat kepercayaan dari pemerintah Demak
untuk mendirikan perkampungan di daerah Barat. Atas kesungguhan dan ketekunan
mereka bekerja maka berdirilah sebuah perkampungan yang disebut Cirebon.
6. Kehidupan
Budaya
Beberapa
peninggalan sejarah kesultanan Cirebon: Keraton Kasepuhan Cirebon, Keraton
Kanoman, Masjid Cipta Rasa & Makam Gunung Jati.
v Faktor kemajuan
1. Pendidikan
keagamaan di Cirebon terus berkembang.
2. Pada
abad ke-17 dan ke-18 di keraton-keraton Cirebon berkembang kegiatan- kegiatan
sastra yang sangat memikat perhatian.
v Faktor kemunduran
1. Perpecahan antara saudara
menyebabkan kedudukan Kesultanan Cirebon menjadi lemah sehingga pada tahun 1681 kedua
kesultanan menjadi proteksi VOC.
2. Pada
waktu Panembahan Sepuh meninggal dunia (1697), terjadi perebutan kekuasaan di
antara kedua putranya. Keadaan demikian mengakibatkan kedudukan VOC semakin
kokoh.
3. Dalam
Perjanjian Kertasura 1705 antara Mataram dan VOC disebutkan bahwa Cirebon
berada di bawah pengawasan langsung VOC
E.
KERAJAAN PAJANG (1549-1618)
|
Silsilah Raja K.Pajang
|
Terletak di daerah Kartasura, dekat
Surakarta/Solo, Jawa Tengah. Pajang sendiri merupakan
kelanjutan dari Pengging pada tahun 1618 yang pernah dihancurkan ibukota dan
sawah ladangnya oleh pasukan-pasukan dari Mataram karena memberontak. Daerah kekuasaan Pajang mencakup di sebelah
Barat Bagelen (lembah Bogowonto) dan Kedu (lembah Progo atas).
2.. Sumber Sejarah
Ø Dari Dalam negeri:
· Babad Banten,
menyebutkan Ki Andayaningrat berputera 2 orang, yaitu Kebo Kenanga dan Kebo
Kanigara.
· Kronik di Katasura
,menulis asal seluk beluk asal usul raja raja matram dimana Pajang dimana
Pajang dilihat sebagai pendahulunya
· Kitab Negarakertagama
menyebutkan pada zaman tersebut adik perempuan
Hayam Wuruk bernama asli Dyah Nertaja menjabat sebagai penguasa Pajang,
bergelar Bhatara i Pajang, atau disingkat Bhre Pajang.
3. Kehidupan Politik
Awal berdiri
Nama negeri Pajang telah dikenal
sejak zaman Kerajaan
Majapahit.
Menurut Nagarakretagama yang ditulis
tahun 1365, bahwasanya pada zaman tersebut adik perempuan Hayam Wuruk (raja Majapahit saat itu) bernama
asli Dyah Nertaja menjabat
sebagai penguasa Pajang, bergelar Bhatara i Pajang, atau disingkat Bhre Pajang.
Dyah Nertaja merupakan ibu dari Wikramawardhana (raja Majapahit selanjutnya).
Berdasar naskah-naskah babad, bahwa negeri Pengging
disebut sebagai cikal bakal Pajang. Cerita Rakyat yang melegenda menyebut bahwa
Pengging sebagai kerajaan kuno yang pernah dipimpin Prabu Anglingdriya, musuh
bebuyutan Prabu Baka raja Prambanan. Kisah ini dilanjutkan dengan dongeng
berdirinya Candi
Prambanan.
Raja-raja yang
pernah memerintah:
|
No.
|
Nama Raja
|
Tahun
|
Keterangan
|
|
1.
|
Jaka Tingkir
|
|
· Nama aslinya adalah Mas Karèbèt, bergelar Sultan
Hadiwijaya
·
· Setelah menyingkirkan Arya Panangsang seorang
penguasa Demak, Joko
Tingkir kemudian memindahkan istana Demak ke Pajang
· Kerajaan
Pajang mencapai Puncak Kejayaan
|
|
2.
|
Arya Pangiri
|
1583-1586
|
·
Bergelar
Sultan Ngawantipura
· Dikisahkan
hanya peduli pada usaha untuk menaklukkan Mataram daripada menciptakan
kesejahteraan rakyatnya.
· Berlaku
tidak adil terhadap penduduk asli Pajang. Ia mendatangkan orang-orang Demak
untuk menggeser kedudukan para pejabat Pajang. Bahkan, rakyat Pajang juga
tersisih oleh kedatangan penduduk Demak. Akibatnya, banyak warga Pajang yang
berubah menjadi perampok karena kehilangan mata pencaharian
|
|
3.
|
Pangeran
Benawa
|
1586-1587
|
·
Bergelar
Sultan Prabuwijaya.
· Pangeran Benawa dikisahkan sebagai seorang yang
lembut hati.
|
4. Kehidupan
ekonomi
Pajang mengalami kemajuan di bidang
pertanian sehingga menjadi lumbung beras dalam abad ke-16 dan 17. Lokasi pusat
kerajaaan Pajang ada di dataran rendah tempat bertemunya sungai Pepe dan
Dengkeng (ke dua-duanya bermata air di lereng gunung Merapi) dengan Bengawan Sala.
Irigasi berjalan lancar karena air tanah di sepanjang tahun cukup untuk
mengairi sehingga pertanian di Pajang maju.
5. Kehidupan
Sosial
Kehidupan rakyat Pajang mendapat
pengaruh Islamisasi yang cukup kental sehingga masyarakat Pajang sangat
mengamalkan syariat Islam dengan sungguh-sungguh.
6.. Kehidupan Budaya
Kampung Laweyan sangat terkenal dengan
peninggalan Kerajaan Pajang.keberadaan tradisi membatik di Laweyan merupakan
salah satu peninggalan kebudayaan kerajaan Pajang. Pada masa awal, teknik batik
dikenalkan Ki Ageng Henis, seorang penasihat spiritual Kerajaan Pajang.
v
Faktor kemajuan
1. Sultan Adiwijaya memperluas
kekuasaannya di Jawa pedalaman,
2. Ditundukkannya Kediri pada tahun
1577,
3. Bidang kesusastraan dan kesenian
yang sudah maju di Demak dan Jepara lambat laun dikenal di pedalaman Jawa.
v
Faktor kemunduran
1. Sultan hadiwijaya sakit dan kemudian wafat
2. Pemerintahan Arya Pangiri disibukkan dengan balas dendam
terhadap Kerajaan Mataram Islam
3. Pangeran Benawa bersekutu dengan Sutawijaya menyerbu Kerajaan
Pajang.
4. Perang Kerajaan Pajang melawan Kerajaan Mataram Islam dan
Jipang berakhir kekalahan Arya Pangiri.
5. Tidak ada pengganti tahta kerajaan setelah Pangeran Benawa.
6. Sutawijaya sendiri mendirikan Kerajaan Mataram Islam.
III. Penutup
A.
Kesimpulan
Kerajaan-kerajaan
islam yang berkembang di Indonesia khususnya di Jawa ada 5 yaitu Kerajaan
Pajang, Kerajaan Demak, Kerajaan Mataram Islam, Kerajaan Banten, Kerajaan
Cirebon. Masing-masing mempunyai kehidupan politik,ekonomi, yang berbeda-beda
di setiap raja-raja yang berkuasa dan kehidupan social budaya yang tentunya
sudah terpengaruhi oleh agam islam.
B.
Daftar Pustaka
Makasih Infonya,sangat berguna sekali^^
BalasHapusIzin copas yah.
BalasHapus