Cerpen Nasihat
Petuah Sang Kakek
Karya: Mega Atika
Alisa
Sekar Ayu Hemastiningrum, seorang gadis tujuh belas tahun yang tinggal bersama
“Simboknya”, yang keturunan Jawa tulen di atas sebuah toko batik tua sederhana
di salah satu kota besar di Indonesia.
“Alisa!!”
teriak seorang wanita tua berpakaian kebaya khas Jawa lengkap dengan tapih
batik dari balik tumpukan batik, memecah kesunyian pagi itu. Simbok memang
wanita tua yang sangat rajin dan ulet. Setiap hari ia bangun pagi-pagi sekali
untuk merapikan toko peninggalan suaminya dan memasak untuk cucu kesayangannya.
“Alisa!!”
teriakan untuk kesekian kali yang tak kunjung mendapat sambutan baik. Seperti
kehilangan kesabaran, tapi mungkin kata-kata tersebut tidak sesuai karena kita
tahu Simbok notabennya adalah seorang perempuan Jawa yang terkenal
kesabarannya. Simbok segera naik tangga kayu tua yang sangat sederhana. Kamar
Alisa berada di lantai atas, tepatnya di atas sebuah toko batik tua sederhana
di pinggir jalan kota.
“Owalah
nduk..nduk... jam berapa ini, ndak pantes anak gadis kaya kamu jam segini belum
bangun” omel Simbok dengan aksen Jawa yang kental sambil membuka korden sebuah
jendela model kuno di kamar Alisa.
“Hmmmh,
masih pagi Oma, belum puas tidurnyaaaah...” ucap Alisa sambil menguap lebar
yang sepenuhnya belum sadar dari tidur nyenyaknya. “Oma-oma!!, nglantur kamu
yo, ini Simbok bukan Oma, ayo bantu Simbok ngrapiake dagangan”. Sepeninggal
suaminya ia selalu meminta bantuan Alisa
untuk merapikan dagangan.
“Iya...iya
mbok bentar lagi aku kesana”.
“Yo wes,
cuci muka sana, tak tunggu di toko, cepet yo.” Perintah Simbok yang lama
kelamaan menghilang di balik pintu kamar Alisa.
“Mahal
banget Mbok, 65 boleh Mbok?” tawar seorang pelanggan setia toko batik Simbok.
“Yo wes iki cah.” Setelah sepakat Simbok memberikan setelan pakaian dibungkus
kantong plastik loreng hitam putih. “Mana yo si Alisa”, dengan segera Simbok
mencari ke kamar Alisa, dilihatnya kamar tersebut sangat berantakan seperti
rumah tua ditinggal penghuninya.
“Alisa!!..
Al..” panggilannya terpotong, setelah melihat cucu satu-satunya sedang makan
dengan lahap di meja makan besar yang penuh dengan masakan Simbok. “Astaga
Alisa, makannya pelan-pelan to Nduk, ndak pantas anak gadis makannya
acak-acakan kayak gini.”
“Iyo..iyo
Mbok.. pamit dulu Mbok mau kuliah” Alisa dengan tergesa-gesa mencium tangan
Simboknya lalu lari terbirit-birit meninggalkan ruang makan yang berada di
balik toko batik Simboknya. Dengan mulut penuh dengan opor ayam buatan Simbok,
hampir saja Alisa menabrak setumpuk daster batik di toko. “Eh Nduk, hari ini
bukannya kuliahmu libur?” teriak Simbok dari balik tumpukan pakaian. “Eh, ohya
hari ini aku les nari, nari Jawa Mbok.” Sahut Alisa yang sudah siap tancap gas
di atas motornya.
Dalam
benak Simbok ia berpikir sejak kapan Alisa tertarik dengan dunia seni Jawa.
Selama ini memang Simbok sangat berharap Alisa ikut pelatihan menari Jawa, hal
ini dikarenakan Simbok ingin cucu satu-satunya ini dapat meneruskan tradisi
keluarganya yang sangat mencintai dan membudayakan seni Jawa, terutama seni
tari. Tapi Alisa menganggap semua itu kuno, jadul, norak, dan tidak sesuai
dengan tren jaman sekarang. Meskipun begitu, Simboknya tidak pernah marah
kepada Alisa, yang sejak kecil diasuhnya. Punggungnya menghilang di belokan
jalan raya.
“Baah,
rajin sekali cucu kau. Jam segini baru bangun” terlihat seorang laki-laki
keturunan Batak bertubuh tinggi besar dengan kepala plontos menghampiri toko
batik Simbok. Rupanya laki-laki itu adalah Ucok
si pemilik toko di seberang jalan. Toko yang yang kelihatan jauh lebih
besar, bersih, berpenutup kaca dan tentunya lebih modern. “Kasihan sekali kau,
harus mengurus toko tuamu ini yang sama usianya dengan kau, reot,lapuk, paling
sebentar lagi ambruk. Sudah lah kau ini sudah tua, kempot, kau nikahkan saja
cucumu dengan aku, masa depan kau dan cucu kau aku jamin, kau tak perlu
capek-capek ngurus toko kau ini.” Ujar laki-laki plontos Batak itu. “Sudahlah
njenengan ndak usah bujuk-bujuk terus, percuma.”
“Yasudah
kalau begitu, tau rasa kau!” omel Ucok sambil mengacak-acak pakaian Simbok.
Memang sejak dulu Ucok tertarik dengan Alisa, namun ia sangat tidak snang
dengan keberadaan toko batik Simbok, ia merasa tersaingi. Padahal tookko Simbok
jauh lebih dulu berdiam di tempat tersebut, memang aneh, sangat aneh malah.
“Hey
Alisa! Lama banget sih gila. Aku nunggu udah ada 1 jam lebih loh!” omel seorang
teman kuliah Alisa yang biasa dipanggil Ica, bertempat disalah satu cafe di
sebuah mall. “Sory, sory Ca, aku kan, cucu yang baik jadi s’lalu inget petuah
kakek aku.”
“Aneh kamu
Al, oke mending sekarang kita langsung aja.” Kata Ica seembari mengeluarkan
laptop dari hand bag warna hitam berkilaunya. Ditemani segelas jus alpukat,
mereka sibuk mengutak-atik skripsi miliknya.
“Eh Ca,
kayaknya perutku mules nih, aku ke belakang dulu ya,” pamit Alisa dengan wajah
pucat menahan sesuatu yang sangat ingin ia keluarkan.
Beberapa
menit kemudian...
“Eh Ca,
lama ya Ca...” Alisa datang dengan muka seperti telah berhasil mengeluarkan
beban berat dalam dirinya. “Gila kamu ya, ke wc lama banget,” muka kesal Ica
sangat terlihat. “He maaf , maklum lah Ca, kalo yang masuk banyak, yang keluar
pasti juga banyak he..he..” Alisa sadar, bahwa tadi sebelum berangkat ia makan
nasi dua piring plus ayam goreng plus opor ayam dua mangkok plus tiga sendok
sambal terasi berkomposisi 10 cabe rawit ditambah 2 cabe besar.
“Rakus
banget sih lo, badan tambah gede tuh!”
“Eh Ca,
ini aku lakuin karena aku selalu inget sama petuah kakekaku sebelum dia
meninggal 2 tahun lalu gini “Alisa cucuku kamu itu sudah besar, kalo kamu ingin
sukses yo kamu harus makan sekenyang-kenyangnya, tidur sepuas-puasnya.” Ujar
Alisa sambil menirukan gaya kakeknya.
“Aneh
banget petuah kakekmu,” pikirku. Akhirnya acara membuat skripsi bisa berakhir.
Sesampai di rumah, Alisa langsung menuju kamarnya. Suasana malam di sebuah
rumah di pinggir jalan kota yang membuatnya tidak terlalu sepi, banyak
kendaraan yang lalu lalang di depan rumah Alisa. Tidak dilihatnya Simbok malam
itu, mungkin dia sudah terlelap, pikir Alisa.
“Alisa.....”
dengan suara lirih Simbok masuk ke kamar Alisa. “Iya mbok, ada apa?” suara
Alisa tidak kalah lirihnya, nampak raut wajah lelah Alisa. Alisa sebenarnya
belum tidur sepenuhnya.”
“Gini
nduk, kamu itu udah gede, Simbok tahu kamu dulu anak yang rajin, tapi 2 tahun
belakangan ini kok ada yang berubah dari kamu, sekarang kamu bangunnya siang
terus, ndak pernah bantu Simbok neng toko, makan ndak karuan. Sebenarnya ono
opo to nduk?” Raut wajah wanita tua itu terlihat tidak ingin membuat
pembicaraan ini membuat cucunya marah. Garis wajah tuanya seolah menunjukkan
bahwa ia sudah lama mengasuhnya. Semburat cahaya bulan purnama malam itu datang
dari ventilasi satu-satunya jendela di kamar Alisa.
“Gini
mbok, dua tahun yang lalu sebelum kakek meninggal, dia berpesan padaku, Agar
ingin jadi orang sukses, tidurlah sepulas-pulasnya, makanlah
sekenyang-kenyangnya.” Alisa menjelaskan hal yang disampaikan kakeknya dua
tahun lalu. Kakek Alisa meninggal bukan karena sakit untuk seumurannya. Kakek
Alisa seorang yang bugar, tidak terlihat sekalipun ia mengeluh sakit. Kakek
Alisa meninggal karena mempertahankan tokonya dari sekelompok perampok toko
yang malam itu dengan brutal mengacak-acak toko tuanya, setelah mendapat yang diinginkan,
tidak cukup itu, bahkan perampok itu hendak membunuh Alisa. Ketika perampok
menodongkan pistol ke arah Alisa dan bersiap untuk menarik pelatuknya,
tiba-tiba kakeknya datang bagai tameng yang melindungi badan dari segala
bahaya, dan akhirnya kakeklah yang terkena timah panas di bagian dada kanan,
karena kehabisan darah kakek pun meninggal.
“Alisa...Alisa,
owalah nduk nduk, kamu kok ndak pernah cerita sama Simbok, itu pesan yang sama
persis dengan pesan buyutmu dulu keada kakekmu, mungkin kakekmu dulu ndak
sempat memberi tahumu arti pesan itu” suara Simbok terdengar semakin lirih di
dalam kamar Alisa yang gelap. Korden bercorak bunga tertiup angin malam di
pinggir kota.
“Apa yang
salah mbok? Alisa sudah melakukan semua pesan kakek, Alisa setiap hari sudah
tidur pulas banget,makan sampai kenyang banget” ujar Alisa dibalik selimut
tebalnya.
“Gini
nduk,maksudnya, tidur yang nyenyak
itu....sekarang simbok tanya kapan saat kamu tidur paling nyenyak?” “ya..kalo
abis pulang kuliah, tugas skripsi banyak, pulang terus tidur rasanya pules
banget.”kata Alisa. “sekarang... kapan kamu maka paling enak?pasti saat kamu
seharian ndak makan kan?”. “Jadi maksud kakek kamu, tidur sepulas-pulasnya,
makan sekenyang-kenyangnya itu, jika kamu ingin sukses ,setiap hari kamu harus
bekerja keras, gunakan waktumu sebaik-baiknya dan kamu harus berihtiar seperti
orang yang sedang puasa,harus berusaha menahan segala hawa nafsu sambil
mendekatkan diri kepada Gusti Allah” jelas Simbok dengan belaian tangan yang
penuh dengan jiwa keibuan.
“Jadi,
Simbok, kalo kita ingin sukses harus selalu berusaha sama doa ya?” “yo ngono
nduk..”.
Sejak saat
itu Alisa mengerti pesan kakeknya. Sejak saat itu pula Alisa rajin bangun pagi
membantu Simboknya merapikan toko dan kuliah dengan rajin. Setelah lulus kuliah
ia bekerja di sebuah Bank Swasta, dan berhasil memajukan toko Simboknya
melebihi toko batik abang Ucok.
Ayo Casino Review & Rating 2021 - jtmhub.com
BalasHapusDiscover the best games 제천 출장샵 available for you and experience a thrilling experience. Play all 계룡 출장마사지 the 서산 출장샵 latest online slots, table games, and 익산 출장안마 more at JTM Hub. 대구광역 출장안마